
Sendang Sinongko terletak di Desa Pokak Kecamatan Ceper, sekitar 7 kilometer dari pusat Kabupaten Klaten, awal mula sejarah sendang ini adalah legenda yang menyebutkan terdapat suatu Kadipaten yang pusat pemerintahannya berada di Perdikan dan memiliki suatu sendang yang di pergunakan sebagai tempat bersuci atau pemandian. Wilayah kadipaten ini berbatasan di sebelah barat dengan Gunung Merapi dan sebelah Timur dengan Gunung Lawu yang di pimpin oleh seorang Adipati bernama Ki Singodrono, di bantu oleh seorang patih yang bernama Ki Irokopo. Dalam menjalankan pemerintahan keduanya sangat arif dan bijaksana serta ahli di bidang ilmu kebatinan dan kamuksan. Nama Sinongko sendiri merupakan pemberian dari Raja Surakarta Sinuhun Paku Buwana VII yang pada saat melakukan perjalanan ke Yogyakarta singgah dan beristirahat di tempat itu sambil makan buah nangka.
Kemudian, beliau membuang isinya ke sendang sambil mengatakan, “Mangke saumpami wosipun nangka menika tuwuh lan saged gesang, tuwin sendang menika dados rejo supados dipun paringi asma sendang Sinongko,”. Di Sendang Sinongko setiap setahun selalu diadakan acara adapt “Tasyakuran Bersih Sendang Sinongko”, tepatnya pada Jumat Wage di bulan Agustus atau awal September sehabis panen di musim kemarau. Tradisi ini mengandung makna agar warga masyarakat menjaga keseimbangan lingkungan dengan mengadakan acara bersih sendang supaya airnya tetap bersih dan jernih, sehingga sendang ini bisa dimanfaatkan untuk mengairi sawah dan sekitrnya sepanjang musim.
Leave a Reply